Mengenal Kabupaten Cianjur

Cianjur atau Kabupaten Cianjur adalah sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sebuah Daerah Tingkat II yang beribukota di Kecamatan Cianjur ini telah berdiri sejak tahun 1677. Adalah R.A. Wira Tanu I yang memiliki nama asli Jayasasana atau Djayasasana yang tercatat dalam sejarah sebagai Pendiri sekaligus sebagai Dalem atau Bupati pertama Pemerintahan Cianjur. Dikenal banyak memiliki lokasi wisata alam, Cianjur juga dikenal dibanyak bidang, seperti Keagamaan, Beras, Ayam "pelung", Tauco, Pengobatan tradisional, dan lainnya.

Mengenal Kabupaten Cianjur

Profil Kabupaten Cianjur
Berdiri1677 Masehi
PendiriR.A. Wira Tanu I
SemboyanSugih Mukti
ProvinsiJawa Barat
Ibu kotaKecamatan Cianjur
BahasaSunda dan Indonesia
BupatiDrs. H. Irvan Rivano Muchtar, S.Ip, SH, M.Si
Luas3.432,96 km2
Populasi2.149.121 Penduduk
Kepadatan626,03 jiwa/km2
Kode Area Telepon+62 263

Geografi, Topografi dan Administratif
Letak geografi Kabupaten Cianjur berada pada koordinat 106 o 42’- 107 o 25’ bujur timur dan 6 o 21’-7 o 25’ lintang selatan, dengan ketinggian 7-2.962 mdpl dan kemiringan 0-40%. Kabupaten Cianjur memiliki perbatasan dengan Kabupaten Bogor, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Purwakarta di sebelah Utara, sementara di sebelah timur Kabupaten Cianjur berbatasan dengan Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Garut, Sedangkan Samudra Hindia berada di selatan, dan dengan Kabupaten Sukabumi berbatasan di barat.

Selain sektor wisata, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan merupakan sumber utama pendapatan daerah. Banyaknya aliran sungai baik sungai besar maupun kecil serta lahan yang subur membuat sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan menjadi sumber utama pendapatan daerah selain sektor wisata.

Dari total luas wilayahnya, yaitu 350.148 hektar, 83.034 Ha atau 23,71% berupa hutan produktif dan konservasi, 97.227 Ha Atau 27,76% dimanfaatkan sebagai lahan pertanian kering dan tegalan, 58,101 Ha atau 16,59% dijadikan sebagai tanah pertanian lahan basah, 57.735 Ha atau 16,49% berupa tanah perkebunan, 3.500 Ha atau 0,10% berupa tanah penggembalaan atau pekarangan, 1.239 Ha atau 0,035% berupa tambak atau kolam, 25.261 Ha atau 7,20% telah menjadi pemukiman dan pekarangan, dan 22.483 Ha atau 6.42% berupa penggunaan lainnya.

Kabupaten Cianjur memiliki 32 Kecamatan, antaralain:
  1. Agrabinta
  2. Bojong Picung
  3. Campaka
  4. Campaka Mulya
  5. Cianjur
  6. Cibeber
  7. Cibinong
  8. Cidaun
  9. Cijati
  10. Cikadu
  11. Cikalongkulon
  12. Cilaku
  13. Cipanas
  14. Ciranjang
  15. Cugenang
  16. Gekbrong
  17. Haurwangi
  18. Kadupandak
  19. Karangtengah
  20. Leles
  21. Mande
  22. Naringgul
  23. Pacet
  24. Pagelaran
  25. Pasirkuda
  26. Sindangbarang
  27. Sukaluyu
  28. Sukanagara
  29. Sukaresmi
  30. Takokak
  31. Tanggeung
  32. Warungkondang
Kode Pos se Kabupaten Cianjur

Sejarah Kabupaten Cianjur
Sejarah Kabupaten Cianjur
Foto Bupati Cianjur beserta istrinya dalam sebuah mobil dihalaman pendopo Kabupaten Cianjur (1915-1925)
Asal usul Kabupaten Cianjur berawal mula dari seorang cucu dari Raja Kerajaan Talaga yang terletak di suku gunung Cereme yang juga merupakan keturunan dari Raja Siliwangi. Adalah Raden Jayasasana atau lebih dikenal dengan nama Raden Aria Wira Tanu yang merupakan anak dari seorang mualaf yang bernama Raden Aria Wangsa Goparana. Di usir dari Kerajaan Talaga karena memeluk Islam, Raden Aria Wangsa Goparana besarta Raden Jayasasana dan saudara-saudaranya mendirikan sebuah Desa dan Pesantren di wilayah Kecamatan Sagaraherang Kabupaten Subang.

Sebagai putra pertama, Raden Jayasasana yang juga merupakan seorang yang taat dalam beragama diperintahkan oleh ayahnya untuk membuat sebuah wilayah kekuasaan baru dengan diikut sertakannya sekitar 100 orang rakyat atau cacah. Dalam pencariannya, akhirnya mereka sampai di sebuah kawasan yang kini masuk kedalam Kecamatan Cikalong Kulon, tepatnya di wilayah sungai Cikundul. Disanalah Raden Jayasasana membuat sebuah kepemimpinan yang merupakan cikal bakal Pemerintahan Kabupaten Cianjur.

Gelar Aria untuk Raden Jayasasana diberikan setelah beberapa kesatuan masyarakat Cianjur seperti Cipamingkis dibawah pimpinan Nalamerta, Cimapag pimpinan Nyiuh Nagara, Cikalong pimpinan Wangsa Kusumah, Cibalagung dalam kepimpinan Natamanggala, Cihea kepimpinan Wastu Nagara, serta Cikundul dibawah kepimpinan Raden Jayasasana yang pada saat itu telah mendapatkan gelar Wira Tanu (Panglima atau Senapati dari kekuasaan Cirebon) menyepakati bahwa wilayahnya bersatu menjadi satu negeri, yaitu Cianjur yang dipimpin oleh Raden Jayasasana atau menjadi Raden Aria Wira Tanu.

Gelar Aria untuk Raden Jayasasana diberikan setelah beberapa kesatuan masyarakat Cianjur seperti Cipamingkis dibawah pimpinan Nalamerta, Cimapag pimpinan Nyiuh Nagara, Cikalong pimpinan Wangsa Kusumah, Cibalagung dalam kepimpinan Natamanggala, Cihea kepimpinan Wastu Nagara, serta Cikundul dibawah kepimpinan Raden Jayasasana yang pada saat itu telah mendapatkan gelar Wira Tanu (Panglima atau Senapati dari kekuasaan Cirebon) menyepakati bahwa wilayahnya bersatu menjadi satu negeri, yaitu Cianjur yang dipimpin oleh Raden Jayasasana atau menjadi Raden Aria Wira Tanu.

Berdasarkan kontrak tanggal 25 Februari 1677 antara Mataram dan VOC, secara de jure dan klaim Mataram Cianjur berada dalam di wilayah yang dikuasai oleh VOC, namun tidak seperti kota-kota lainnya kepemerintahan Cianjur dibentuk dan dikelola secara mandiri oleh para tokoh masyarakat. Oleh sebab itu pada saat terjadinya prahara di Kerajaan Mataram pada tahun 1677 membuat Cianjur menjadi sebuah wilayah yang merdeka secara de facto. Hal tersebut menjadi acuan dari peringatan hari jadi Kabupaten Cianjur, yakni 12 Juli 1677.


Khas Kabupaten Cianjur
Ayam Pelung (Hewan peliharaan)
Ayam pelung adalah ras ayam lokal unggul sekaligus menjadi jenis ayam khas dari Kabupaten Cianjur yang memiliki besar tubuh sekitar 5 hingga 6 kg dan tinggi sekitar 40 hingga 50cm. Awal mula dari ayam yang jantannya (ayam jago) memiliki suara kokok yang panjang dengan nada yang enak untuk didengar ini dari seorang petani di Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Cianjur yang mengawinsilangkan ayam tertentu hasil seleksi dari pengamatannya. Adalah H. Djarkasih (Mama' Acih) yang juga merupakan tokoh agama setempat.

Tauco (Makanan)
Tauco adalah bumbu makanan yang terbuat dari biji kedelai (Glycine max) yang melalui proses fermentasi berminggu. Sebelum proses fermentasi yang dilakukan dengan cara menjemurnya pada terik matahari, kedelai direbus serta dihaluskan dan dicampur tepung terigu.

Pandan Wangi (Beras Cianjur)
Pandan Wangi atau Beras Pandanwangi adalah salah satu varietas dari padi bulu yang berawal ditanam pada ketinggian 700 mdpl di wilayah Kecamatan Cibeber, Cianjur, Jawa Barat. Jenis beras yang diperkenalkan atau dipasarkan ke luar daerah Cianjur pada tahun 1970 oleh seorang pedagang beras bernama Haji Jalal ini perlahan menjadi jenis beras yang paling disukai para konsumen hingga kelas ekonomi atas. Padi dari beras yang nasinya beraroma pandan ini ditanam 150-165 hari hingga mencapai tingga mencapai 150-170cm, gabahnya bulat atau gemuk serta tahan rontok. Saat ini Pandan Wangi dan Beras Cianjur lainnya dikenal hingga mancanegara. Oleh karena terletak di kaki gunung gede, banyak wilayah kabupaten yang termasuk sebagai lahan tanam padi yang terbaik, terutama wilayah Kecamatan Warungkondang, Kecamatan Cugenang, dan Kecamatan Cibeber.


Wisata Kabupaten Cianjur
Situs Megalitikum Piramida Gunung Padang
Puncak Gunung Gede
Istana Presiden Cipanas
Kebun Raya Cibodas
Taman Bunga Nusantara
Telaga Biru
Tirta Jangari
Waduk Cirata
Curug Citambur
Pantai Jayanti
Pantai Apra
Dan lainnya
Mengenal Kabupaten Cianjur (update: agustus 2018)

0 Response to "Mengenal Kabupaten Cianjur"

Posting Komentar